Jujuran, tidak melulu soal prestise sosial...

by 08:23:00 1 komentar
“Cantik-cantik, sayang orang Kalimantan…” Kalimat pujian yang diiringi nada penyesalan mendalam itu meluncur dari bibir salah satu kawan priaku, seolah lupa bahwa sosok yang sedang diajaknya bicara juga gadis dari Kalimantan.
“Heii….kalimat apa itu? Memang kenapa kalu orang Kalimantan?” Karena kesal tak tanggung-tanggung sebuah buku berat nan tebal kulayangkan ke pundaknya. Punya pengalaman buruk dengan konflik SARA, aku memang sensitif mendengar pernyataan-pernyataan yang berbau diskriminasi seperti itu.
“Ahahai…..sabar ding, itu loh… jujurannya berat bo.” terbahak kawanku tadi, sambil mengusap-ngusap bahunya. Mendengar alasannya, mau tak mau aku turut pula tertawa.
Jujuran memang kerap menjadi olok-olokan sekaligus momok tersendiri bagi kawan-kawan yang berasal dari luar Kalimantan. Bagaimanapun gadis-gadis Kalimantan yang dulunya terkungkung di daerahnya sendiri, seiring perkembangan zaman kini sudah diperbolehkan menempuh pendidikan tinggi hingga ke seberang pulau. Sebuah langkah yang menyebabkan bertemunya budaya-budaya berbeda di berbagai institusi pendidikan ataupun lapangan pekerjaan.  Perbedaan ini tidak hanya terkait masalah seni budaya khas masing-masing daerah, tapi mencakup pula perbedaan bahasa, cara bergaul, perjamuan tamu, pengurusan jenazah, hingga urusan bertemunya sepasang manusia yang serius berencana membangun rumah tangga bersama, yakni pernikahan.
Terkait masalah pernikahan inilah jujuran mencuat dan dikenal hingga ke berbagai daerah lainnya. Ya, Jujuran, istilah yang tidak hanya dikenal di Kalimantan. Beberapa daerah lain seperti Nias, dan Bugis juga mengenal istilah serupa.  Meski memiliki beberapa bagian berbeda dalam prosesi dan persyaratannya, jujuran adalah sebuah adat yang merupakan bagian dari prosesi panjang sebuat adat perkawinan .
Di Kalimantan sendiri, jujuran seringnya disangka serupa dengan mahar atau mas kawin. Tahun-tahun belakangan ini kisaran jujuran di daerah Kalimantan sudah mencapai puluhan hingga ratusan juta. Tak menjadi heran, banyak pria yang memilih  mengundurkan diri dengan teratur jika sudah berhadapan dengan gadis Kalimantan, tak peduli seberapa besar ketertarikan kaum adam tersebut pada sang gadis.
 Konon katanya jujuran itu biaya membeli “anak gadis” orang Kalimantan. Semakin terpandang keluarganya, semakin cantik parasnya, semakin berpendidikan dan bagus karirnya maka semakin besar pula nilai jujurannya.
Mmm, benarkah besarnya  jujuran merupakan prestise sosial bagi masyarakat Kalimantan???
Sebenarnya, penetapan besarnya jujuran tidaklah serta merta seolah-olah ada standar bakunya, atau tidak pula semata-mata melihat kondisi pihak perempuan yang dilamar. Sebelum sampai pada tahapan “Meantar jujuran” pada awalnya ada masa “Basasuluh”.
Dulu, ketika nilai-nilai ketimuran belum bergeser akibat adanya infiltrasi budaya Barat, di Kalimantan sama sekali tak dikenal istilah “pacaran”. Karenanya  seorang pria yang sudah mapan dan merasa siap menikah, lazimnya oleh keluarga terdekatnya diadakanlah apa yang disebut Basasuluh. Yakni upaya mendapatkan keterangan tentang perempuan yang diingininya, dan upaya mendapat persetujuan dari pihak keluarga perempuan tersebut.

 Dalam acara Basasuluh, pihak pria mencari tahu tentang hal-hal yang ingin diketahuinya, terutama  tentang agama si perempuan, keturunannya, kemampuan rumah tangganya, serta kecantikan parasnya. Sebaliknya keluarga pihak perempuan akan memperhatikan pula hal yang sama dan menambahkan  penekanan pada pekerjaan si pria.
 Hal ini sangat penting, karena bagi orang tua pihak perempuan menyetujui pernikahan anak perempuannya berarti siap menyerahkan sang anak  dalam pertanggung jawaban sang pria. Diharapkan calon suami dapat memberikan perlindungan dan penghidupan minimal sebagaimana yang telah diberikan orang tua si perempuan.
Setelah sama-sama merasa cocok, baik antara  calon mempelai maupun keluarga besarnya maka dilanjutkan dengan acara “badatang”. Kedatangan calon mempelai pria beserta orantua dan keluarga besarnya akan diterima pihak keluarga perempuan dengan cara tradisional. Biasanya akan lahir dialog yang menyerupai prosa liris dalam bahasa daerah.
 Masing-masing pihak boleh meminta bantuan  kepada mereka yang memang pandai bersilat lidah dan merangkai pantun. Karena dalam masa inilah selain saling berbalas pantun, ditetapkan tanggal pernikahan dan tetek bengek yang mengikutinya, juga diadakan ”negosiasi” besarnya jujuran dari pihak calon suami.
Jujuran, bukanlah biaya ganti rugi apalagi biaya membeli seorang wanita dari keluarganya. Jujuran juga tidak sama dengan mahar atau mas kawin.  Jujuran sama sekali tidak untuk dinikmati oleh orang tua pihak perempuan. Jujuran akan digunakan untuk membiayai walimahan dan sebagian lagi akan digunakan sebagai modal awal untuk kehidupan pasangan yang baru menikah itu sendiri.
Jujuran juga memiliki makna bahwa dalam sebuah perkawinan diperlukan kesiapan lahir batin, artinya jujuran merupakan simbol kemapanan secara ekonomi.
Karenanya menjadi penting dalam acara Badatang untuk menyepakati besarnya pesta walimahan, berapa undangan, dan lain sebagainya. Keluarga pihak perempuan biasanya memang akan memberi start bidding besaran jujuran sesuai standar jujuran dengan menilik kondisi sang calon mempelai perempuan dan pekerjaan si pria.
 Jangan khawatir, jika di acara basasuluh sudah mendapatkan persetujuan orang tua pihak perempuan secara penuh maka besaran jujuran jelas bisa dinegosiasikan sesuai kemampuan. Terlebih dengan perkembangan zaman dan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap agama, maka budaya-budaya yang menyelisihi syariat sudah mulai ditinggalkan. Tak jarang dijumpai, pihak keluarga perempuan yang menawarkan membantu atau membagi dua biaya walimahan tersebut. Artinya jika memang sudah disetujui, maka besaran jujuran pastilah akan disesuaikan dengan kemampuan pihak lelaki.
Lain halnya jika dari awal pihak keluarga wanita sudah ada keberatan atau ketidaksukaan tertentu pada pihak pria.  Maka proses negosiasi jujuran biasanya akan sangat berjalan alot, dan jarang sekali besaran jujuran bisa bergeser dari angka yang sudah ditetapkan oleh pihak orang tua perempuan. Dalam hal ini, jujuran juga berfungsi sebagai cara penolakan halus oleh orang tua pihak perempuan. Yakni dengan meminta besaran jujuran yang diketahui pihak keluarga tidak akan sanggup atau sulit dipenuhi oleh pihak pria. Dengan mematok jujuran di luar kesanggupan pihak pelamar, diharapkan si pelamar akan mundur dengan sendirinya.

Setelah disetujuinya besaran jujuran pada saat acara badatang, maka di tanggal yang disepakati prosesi Meantar Jujuran pun dilaksanakan. Dalam tradisi, pihak pria yang mengantar jujuran ini, biasanya juga disertai berbagai perlengkapan yang dibawa oleh iring-iringan rombongan yang panjang.
Hal mendasar yang perlu dibawa yakni pohon pinang dan pohon pisang. Tanaman ini nantinya akan ditanam berdampingan di rumah mempelai wanita. Penanaman kedua pohon ini merupakan simbol dimulainya kehidupan baru bagi kedua mempelai. Diharapkan dalam membina rumah tangga, keduanya meski berbeda dapat hidup rukun berdampingan.
Selain membawa tanaman, dibawa pula perbekalan lain yang rupa-rupanya bisa beragam, namun diantaranya selalu terdapat perlengkapan sholat dan keperluan paket lengkap untuk calon mempelai perempuan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Calon suami yang lebih mapan akan melengkapi iring-iringan tersebut dengan perlengkapan tidur sampai perabot rumah tangga. Dimana barang-barang tersebut nantinya akan digunakan di rumah mereka pasca pernikahan. Semua hal tersebut mencerminkan itikad baik pihak pria yang sudah siap mengarungi rumah tangga dan mengambil alih tanggung jawab si wanita dari orang tuanya.
Prosesi mengantar jujuran diiringi berlangsungnya akad nikah. Tentunya jujuran dan perlengkapan lainnya tersebut bukanlah mahar. Mahar adalah permintaan pribadi calon istri kepada calon suaminya, untuk urusan mahar biasanya diserahkan langsung sesuai keinginan pihak pengantin perempuan. Setelah akad nikah, pesta walimahan bisa dilangsungkan pada hari itu juga atau sesuai tanggal yang telah disepakati.
Kalimantan, yang merupakan pulau terbesar di Indonesia, sering menjadi tujuan transmigrasi. Hal ini menyebabkan banyaknya pendatang yang tentunya memiliki adat dan budaya yang jauh berbeda termasuk dalam urusan pernikahan. Perbedaan kultural inilah yang menyebabkan para pendatang seringkali  masih terkaget-kaget dengan budaya jujuran yang hingga kini masih melekat kuat dalam masyarakat Kalimantan.
Perbedaan kultural ini pula yang sering menyebabkan munculnya stigma negatif terhadap budaya jujuran tersebut. Terkadang, masyarakat luar cenderung melihat apa yang nampak di mata dan mengabaikan nilai-nilai kearifan yang sebenarnya termaktub dalam sebuah adat istiadat. Maka tak heran beragam stigma negatif bermunculan, sebut saja jujuran yang dianggap biaya membeli seorang perempuan dari orang tuanya. Jujuran yang besarannya dianggap sebagai prestise sosial, semakin besar jujuran semakin mewah pula perhelatan yang diselenggarakan. Padahal semua itu adalah hasil kesepakatan kedua belah pihak. Pihak keluarga perempuan dan pihak sang calon mempelai pria. Atau sering pula kita mendengar opini, bahwa tradisi jujuran mengkasta-kastakan manusia. Namun demikian, dipungkiri atau tidak pelestarian tradisi jujuran ternyata menjadi daya pikat tersendiri bagi perempuan-perempuan Kalimantan.
Masyarakat Kalimantan, umumnya memaknai jujuran sebagai symbol kemapanan ekonomi  dan itikad baik serta bentuk tanggung jawab seorang pria yang akan menjadi kepala keluarga ketimbang memandangnya sebagai bentuk prestise sosial.
Bukankah tidak jarang kita menjumpai pria-pria tak bertanggung jawab yang setelah menikah melimpahkan tanggung jawab untuk menghidupi perekonomian keluarga di pundak istrinya? Bahkan sering pula kita melihat pria-pria pemalas yang lebih suka tidur-tiduran di rumah sementara istrinya terpaksa membanting tulang bekerja keras di dalam dan di luar rumah?
Maka, adat jujuran secara turun temurun memberikan pandangan  pada setiap orang tua agar hanya menikahkan putri-putri mereka pada pria yang sudah mapan secara ekonomi. Tanpa bermaksud berorientasi pada kehidupan dan kemewahan duniawi, jujuran membantu orang tua untuk memberikan masa depan yang lebih baik kepada putri-putri mereka, sekaligus mendidik putra-putra mereka menjadi pekerja keras dan siap bertanggung jawab atas hidup anak istrinya kelak.
Meski selalu ada kearifan dibalik sebuah adat istiadat, tidak berarti serta merta seluruh masyarakat Kalimantan memahami makna kearifan tersebut. Kasuistik, memang terdapat beberapa keluarga yang mematok jujuran dengan nominal yang super tinggi, selain karena pendidikan dan pekerjaan si perempuan yang memang sudah baik, pihak keluarga memang bermaksud menyelenggarakan perhelatan mewah untuk putrinya. Tentu hal semacam ini justru menimbulkan kesulitan bagi pihak perempuan untuk memperoleh suami. Karena itulah kebanyakan perempuan-perempuan berumur di Kalimantan yang belum menikah justru berparas cantik dan berpendidikan tinggi serta memiliki karir yang cemerlang.
Jujuran juga bisa berarti menuntut kesepadananan, suatu hal lumrah, bukan?
 Bahkan syariatpun menitahkan menikahi pasangan yang sekufu, sepadan. Dalam syariat, kesepadanan berniat memudahkan pasangan untuk saling berinteraksi dalam rumah tangganya kelak. Demikian pula budaya jujuran.
 Bisa dibayangkan seorang wanita yang berasal dari keluarga terpandang ketika menikah dan harus hidup dalam kondisi yang tak biasanya, tentu memerlukan adaptasi dan proses pembelajaran yang tak singkat. Bisa jadi keharmonisan rumah tangga keburu merenggang sebelum pembiasaan pola hidup baru terpenuhi. Begitu pula jika seorang pria yang kehidupannya pas-pasan menikahi wanita yang jauh lebih berada, dikhawatirkan sang pria akan merasa kurang percaya diri sehingga mempengaruhi kualitas kepemimpinannya dalam rumah tangganya kelak. Hal-hal semacam inilah yang sebenarnya termaktub dalam adat jujuran.
Menjadikan kemapanan ekonomi sebagai tolak ukur pernikahan kerapkali di cemooh sebagian masyarakat. Kebanyakan orang sering berdalih bahwa agama dan keturunan itulah yang utama. Benar, bahkan di prosesi Basusuluh mengetahui agama dan keturunan calon pasangan adalah hal yang utama.  Namun, mari kita renungkan jika sebagai orang tua anda di hadapkan pada dua orang pelamar, yang pertama baik agama dan keturunananya serta berpendidikan tinggi, mapan pula kehidupannya. Sedangkan pelamar kedua baik pula agama dan keturunannya, namun kehidupannya biasa-biasa saja. Tentu sebagai orang tua condong pada pelamar pertama.
Namun, sebuah fenomena menyedihkan dan melenceng dari kearifan yang diusung adat jujuran masih kerap terjadi. Ya, karena kalangan pemuda pemudi dewasa ini sudah tak lagi mengandalkan “basusuluh” untuk menentukan pilihan hidupnya, melainkan melakukan jalan pintas dengan apa yang disebut pacaran, maka hasil yang didapat dari penerapan tradisi jujuran justru tidak sesuai dengan nilai-nilai kearifan dalam tradisi tersebut.
image powered by Google
 Terlebih saat ini pernikahan antar suku dan seberang pulau sudah demikian kerap terjadi. Terkadang para orang tua dipaksa percaya begitu saja dengan pilihan anak perempuannya. Orang tua tak lagi dilibatkan secara penuh untuk menyetujui atau tidak menyetujui si calon suami. Maka, tak jarang terdapat keluarga pria yang memalsukan latar belakang kehidupan dan pekerjaannya. Jujuran memang terpenuhi namun didapat dengan cara berhutang. Maka tentu saja kehidupan pengantin baru yang diharapkan akan cukup mapan dengan sisa uang jujuran sebagai bekal memulai hidup baru justru sudah melilit, terbelit hutang yang tidak sedikit.

Bagi masyarakat Kalimantan sendiri yang mayoritas masyarakatnya kini telah melakukan afiliasi budaya antara warga pendatang dan warga asli, jujuran tidaklah lagi merupakan suatu keharusan. Namun, sebagai sebuah adat yang mengandung nilai-nilai kearifan  budaya Indonesia, jujuran tetap dipertahankan dan dilestarikan.

Demikian halnya pada semua budaya yang masih dilestarikan hingga kini tentu menuai pro dan kontra. Dan jujuran pun tak luput dari hal tersebut. Selaku warga Negara Indonesia pada umumnya dan warga Kalimantan pada khususnya, menurut hemat saya lebih utama tentu adalah mengadaptasi kearifan budaya jujuran tersebut. Karena di balik budaya jujuran yang sering ditentang banyak pihak ini terdapat nilai-nilai yang menginspirasi.


sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

1 comment: