Crying winter : Sebuah kisah spionase yang memikat

by 07:13:00 6 komentar
Sebuah Jaringan terorisme international Betha 99 yang bermarkas di Hongkong tengah menyiapkan sebuah virus yang efeknya lebih dahsyat daripada virus  flu burung maupun flu babi yang pernah menyerang dunia beberapa tahun lau. Sebuah virus yang anak disebar dengan sangat keji.

Sementara itu , sepasang kembar Dimas dan Damar terpisah ribuan mil. Tiga tahun sudah Dimas tak memberi kabar sejak kepindahannya ke Hongkong untuk menjalani pendidikan setelah  sebelumnya bekerja di Korea Selatan. Berbekal pesan sang ibu yang tengah diburu maut, berangkatlah Damar ke Hongkong untuk membawa Dimas pulang.

Kebingungan dan kecurigaan seketika menyeruak di pikiran Damar ketika menemukan gelang  Dimas tergeletak di sekitar bangunan yang diketahui sebagai markas besar Betha 99. Mengapa gelang Dimas ada di sana? Sesungguhnya apa hubungan Dimas dengan jaringan Terorisme itu? Dengan cara apa virus mematikan itu disebarkan? Dan, berhasilkah Damar membawa pulang kembali Dimas?

Temukan jawabannya dalam novel yang penuh intrik menegangkan ini. sebuah kisah spionase yang memikat. Selamat membaca!

Judul               : Crying Winter ( Musim Dingin Yang Memilukan)
Penulis             : Mell Shaliha
Penerbit           : Diva Press
Halaman          : 334
Harga              : Rp 40.000,00
ISBN               : 978-602-7640-49-8

-----------------------------------------------------------------

Di antara sekian banyak novel yang telah ditulis oleh Mell, Crying winter adalah novel keduanya yang telah aku baca. Jauh berbeda dari debut pertamanaya “xie-xie ni de ai” yang berkutat di seputar cinta dan persahabatan, Novel ini menyajikan cerita dengan genre yang jauh berbeda,  kisah spionase.

Awal-awal bab ini bagi yang tak terbiasa dengan novel segenre ini mungkin akan sedikit dibingungkan antara Dimas dan Damar. Bagaimanapun novel ini adalah novel yang menuntut konsentrasi tinggi ketika membacanya. Gak main-main kawan, isu yang diangkat adalah jaringan terorisme yang menyebar senjata mematikan melalui berbagai macam virus mematikan.

Sebagai pecinta genre serupa, aku merasakan perasaan campur aduk ketika membacanya. Pertama,  jelas aku merasa bangga dan merasa perlu angkat topi untuk seorang Mell shaliha. Menulis kisah ini, jelas memerlukan riset serius dan penggarapan yang gak main-main demi mendapatkan kisah yang tetap seru namun tetap logis. Dan, Mell Shaliha dengan sangat baik telah berhasil melakukan hal tersebut.
Pun demikian, aku tak bisa begitu saja menutupi sedikit perasaan kecewa. Bagi sebuah kisah spionase, bagiku unsur ketegangan adalah magnet yang membuat pembaca terus melekat hingga menyelesaikan kisah tersebut. Dan dalam novel ini unsur tersebut kurang terpenuhi. Selaku pembaca aku belum bisa merasakan ketegangan yang menggugahku untuk terus membaca tanpa henti. Mungkin pemotongan antar bagian bab dan peloncatan alur cerita yang masih kurang “cantik” sehingga ketegangan ketika membaca lembar demi lembarnya terasa datar-datar saja.

Satu lagi, tokoh Dr. JR yang merupakan ketua sindikat kejahatan besar yang mampu menebar terror di berbagai belahan bumi sayangnya digambarkan masih terlalu “lembek”. Bagiku kematiannya yang mudah menegaskan karakter “lembek” itu. Sekaligus memberi ending yang kurang memuaskan.

Tapi seperti halnya novel Mell sebelumnya, Novel ini juga memberikan beragam kesadaran dan inspirasi bagi pembacanya. Semangat nasionalisme sekaligus kekecewaan juga harapan yang mewakili suara para buruh migran tergambar dengan dalam dan mampu menyentuh para pembacanya:

“ ….Saya tidak akan membunuh jutaan wanita Indonesia yang telah menciptakan ‘keempatan’ untuk masa depan keluarga mereka dengan menjadi budak orang di Negara ini. Karena Negara kami tidak memberikan kesempatan itu pada mereka. Saya tidak akan membunuh para wanita pejuang sejati Negara, JR, masa depan Negara saya ada di tanagn mereka”

“…saya memang kecewa dengan kelakuan pemerintah di Negara saya, tapi bukan berarti saya membenci Negara saya….Jika saya menghancurkan Indonesia maka ‘kesempatan’ itu tidak akan pernah ada…”

Atas semua pencapaian tersebut, sekali lagi aku ucapkan selamat untuk Mell Shaliha. Semoga ke depannya Mell terus menghasilkan karya-karya yang tidak hanya menghibur tapi juga bermanfaat untuk umat.

Keep spirit Mell !!!


Lagi-lagi ini bukanlah resensi saya hanya ikut meramaikan ProjectBattle Challenge #31HariBerbagiBacaan


sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

6 comments:

  1. Terima ksh atas resensinya mbak Sarah, benar2 membuat sy berpikir ulang bagaimana bisa menulis agar bisa meramu dengan baik dan membuat pembaca tertarik dan penasaran dgn cerita yg sy tulis. keren mbak Sarah :) terima kasih doa dan dukungannya ...

    ReplyDelete
  2. resensinya seimbang mbak.. antara kelebihan kekurangan..
    tp agak banyak typo ^^
    nice posting mbak.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuaaah mba binta teliti banget, aku nulis langsung di blog kemaren jadi gak sempat edit-edit. jadi maluuuuu ;)

      Delete